Udin oh Udin
Udin, sadar betul cintanya ditolak mentah-mentah oleh Tuti. Tiap hari disapanya Tuti oleh Udin tak pernah disambut dengan baik. Jadilah Udin beli keset di warung Bu Maryam bertuliskan 'Welcome'. Katanya, "Setidaknya ada yang menyambutku, meski bukan hatinya.." Ah, parah betul lelaki jarang gosok gigi ini.
Sore-sore Udin bersiap-siap menyambangi Tuti di tempat dagangannya. Lima tahun sudah Tuti dagang minuman jus buah milik bosnya ini. Maklum, wanita kampung selalu tidak percaya diri. "Paling nanti setelah nikah, dapur rumah yang bakal ku kunjungi tiap waktu" - Prinsip Tuti yang enggan menjadi wanita karir. Lain cerita waktu Bapaknya tanya, "Kau mau nikah sama Udin?" Dengan muka judes Tuti menjawab, "Mending ku jadi wanita karir, Pak. Kerja Romusha dengan Jepang pun ku mau".
Datanglah si Udin dengan sepeda warna biru hadiah sepeda santai tahun lalu. Dibelilah satu cup jus mangga. Pura-pura sibuk ketik HP. Tuti mulai muak dengan laki-laki di depannya ini. "Mau tambah jusnya lagi, Din ?" - Tanya Tuti. Ah, bukan main perasaan Udin. Terakhir dipanggil namanya oleh Tuti adalah dua minggu yang lalu. Selebihnya, Udin Marudin nama lengkapnya malah jarang disapa Tuti. Woi, hei, sstt, itulah panggilan Tuti ke Udin.
Kali ini Udin pilih jus alpukat. Senyam-senyum lah si Udin. Sesekali dipandangnya jidat Tuti. Wanita yang menolak menjadi wanita karir ini pun tak tahu lirikan mata genit si Udin. Sayangnya, Tuti juga tak tahu sebenarnya Udin cuma mau ngapelin Tuti. Aneh, ngapelin tak ada bincang-bincang.
Satu jam lewat sudah, kembung pula perut Udin. Empat cup jus buah diminumnya. Pulanglah si Udin, apes sampai rumah bolak-balik terus ke wc. Ibunya pun bingung, dipikirnya hobi baru Udin. Niat hati ngobrol bareng Tuti, si Tuti malah terus-terusan menawari Jus Buah ke Udin. Ah, cerdik kali strategi Tuti mengusir Udin Marudin yang mengejar-ngejar sejak mereka sejak SD ini.

Komentar
Posting Komentar