Orang Jahat, Yang Kebetulan Baik
Akhirnya, kembali lagi menulis di blog yang sudah berbulan-bulan Saya tinggalkan. Dengan perasaan lega, nampaknya ada cerita panjang yang penuh emosi bagi Saya perlu dipublikasikan.
Bertemu dengan orang baik adalah sebuah anugerah. Namun,
Saya sendiri merasakan ternyata tidak semua orang yang Saya anggap baik itu
memberi anugerah. Singkatnya, Dia adalah orang jahat yang kebetulan baik. Pasti
bingung, kan ? Hahaha
Sudah dari akhir Maret 2021, Saya kembali menetap di
Pekalongan. Jaraknya tidak begitu jauh dengan kediaman Saya yang masuk wilayah
Kabupaten Pemalang, sekitar 15-20 KM (sepertinya) atau kurang lebih 45 menit
perjalanan dengan sepeda motor. Maaf, Saya tidak tahu berapa lama jika ditempuh
menggunakan mesin cuci.
Tinggal di Kost, setelah sekitar 5 tahun sebelumnya hidup di
Pondok. Skill mengatur keuangan dan isi perut perlu kembali diterapkan. Berawal
dari sini lah, kemudian mempertemukan Saya dengan orang jahat, yang kebetulan
baik.
Saya bekerja sebagai kurir freelance di sebuah ekspedisi, membuat
dompet senantiasa dag-dig-dug. Memang, freelance terkadang memberi income yang
mengejutkan, kadang juga memilukan. Mau tak mau, perlu ada kerjaan lagi untuk
mengisi dompet supaya tidak kurus. Salah satunya adalah kembali bekerja di
malam hari sebagai driver ojek online.
Banyak layanan yang ditawarkan oleh ojek online. Namun, Saya
cenderung memilih layanan pesan-antar makanan. Alasannya, karena lebih santai.
Berbeda dengan layanan antar-jemput penumpang yang butuh kecepatan ekstra.
Hingga tiba pada suatu malam saya mendapat order untuk
membeli makanan di suatu tempat. Dengan kondisi hujan yang tidak terlalu besar,
Saya pun jalan. Sampailah di lokasi dengan kondisi sedikit basah. Duduk, menunggu makanan dibungkus sembari minum teh panas yang sudah dibuatkan
penjual. Baik sekali beliau, jarang-jarang ada tempat makan yang terdaftar di aplikasi online bersikap seperti ini.
Hujan semakin deras, membuat saya menawarkan opsi ke customer
yang memesan makanan supaya mengizinkan Saya jalan ke tujuan setelah hujan
redah. Customer setuju, teh panas yang kini sedikit lebih hangat, kembali saya sruput.
Saya tipikal orang yang jarang sekali memulai topik pembicaraan
kepada orang yang tidak Saya kenal. Pun kepada pembeli yang Saya temui ini.
Meski beberapa kali bertemu karena saya mendapat pesanan di tempatnya, bukan
berarti kemudian saya sok akrab.
Penjual itu ditemani Istrinya, dengan kompak mereka menawarkan
Saya untuk makan dulu. Saya terima, karena tawaran yang beberapa kali Saya
tolak, kembali ditawarkan.
“Makan dulu aja, ya.”
– Ucap Istri.
“Iya, makan dulu aja.
Sambil nunggu redah.” – Si suami menimpali.
Di sela-sela saya makan, mereka berdua hampir tidak pernah
diam untuk bertanya kepada saya. Jujur, Saya kurang bisa menikmati apa yang Saya
makan. Meski akhirnya habis, tetap saja merasa ada waktu yang terbuang dan
kenikmatan yang gagal didapat. Untung, gratis.
Hampir konsisten, apa yang mereka tanyakan kepada Saya
selalu digunakan sebagai pantulan untuk mereka mengeluarkan unek-uneknya dan
penawaran.
“Kamu kalau makan di
mana ?” – Si suami bertanya ke Saya.
“Gak mesti pak.
Se-ketemunya warung di jalan.” – Jawab saya.
Betul, saya makan se-ketemunya warung di jalan. Artinya, jarang sekali saya
langganan di satu warung untuk makan. Harga pun tidak terlalu menjadi
pertimbangan saya. Asalkan pelayanan baik, rasa oke, Saya bakal datang lagi di
lain hari.
“Besok lagi, makan di
sini saja. 10k dapat telor, nasi, es teh, semua ambil sendiri.”- Si Suami
menawarkan, yang kemudian Saya jawab dengan anggukan saja.
Saya sendiri, sering curiga dengan makanan harga murah (ah, padahal saya baru bilang harga tidak menjadi pertimbangan).
Apalagi semua diambil sendiri, semaunya. Selain curiga dengan rasa, saya pun
curiga dengan tujuan mereka. Singkat, saya mengiyakan semua apa yang mereka
tawarkan. Khususnya Si Suami yang selalu ngoceh. Positif Saya, mereka baik. Itu saja.
Hening sejenak. Dan, dimulai Si Suami mengeluarkan
curhatan.
“Saya itu kasihan
kalau lihat driver. Kalau dapat orderan di sini pasti Saya buatkan minum. Kalau
mau juga Saya sediakan makanan. Kasian.” – Ucap Si Suami dengan raut sedikit
sedih.
Sebuah kalimat yang penuh belas kasih, tapi Saya melihat ada
hal yang janggal dan mengganjal hati.
Cerita ini masih akan berlanjut. Ini adalah bagian awal
saja. Dimana percikan kekesalan Saya sudah mulai muncul. Namun, bisa dipendam dan
dihilangkan. Nantikan part cerita selanjutnya, ya.
Jangan lupa mandi !

Njir masi seru padahal
BalasHapus