Terus Terang
Tiba-tiba hujan turun deras. Menghentikan lalu lalang orang di jalanan, utamanya bagi pengguna roda dua. Menepi, mencari tempat untuk menghindari hujan. Bukan karena benci hujan, mungkin saja hatinya merindukan namun badannya tak siap diguyur air langit ini. Maklum, besok masih harus beraktifitas.
Beberapa pribadi pun pernah terpesona dengan lawan jenis pada saat awal bertemu dan berkenalan. Memilih tidak ingin berkomunikasi lebih lama, memilih tidak bertemu (kembali), hingga melakukan aksi nekatnya; hanya membaca pesan singkat darinya. Ah, pasti berat.
Namun, percayalah perasaannya tidak didominasi oleh emosi, oleh amarah, apapun istilahnya itu; tidak benci.
Hati dan memori dalam kepalanya belum sejalan. Hati ingin mengenalnya lebih dalam, sedalam-dalamnya sampai ke ruang tamu dan duduk bersama orang tuanya membicarakan hari bahagia. Terlalu lebay, mungkin. Tapi, begitulah ke-halu-an pandangan pertama.
Sayangnya, memori dalam kepalanya masih dihantui rasa takut. Takut ditinggalkan, atau takut perasaanya tak diterima. Entahlah, kita kerap menarik masa lalu ketika bertemu dengan orang yang seharusnya menjadi masa depan.
Dan, hujan belum juga redah.
Hati pun belum bersedia berterus terang.
Wiradesa, 5 November 2020
15:47 WIB

Komentar
Posting Komentar