JADI, SIAPA KITA?

Pernah terjadi obrolan sama teman, "Masa pandemi seperti ini, kita perlu nabung". Dengan nada yang sedikit lebih tinggi dijawabnya, "Mau nabung gimana? Penghasilan enggak ada."

Nampaknya perlu dipahami lebih lanjut. 'Nabung' bukan perkara tentang nominal uang. Prajurit yang akan berangkat ke medan perang esok hari tentunya beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun yang lalu sudah mempersiapkan kondisi fisik supaya prima. Mempersiapkan senjata untuk menyerang musuh, menyimpan makanan yang sudah dibuatkan oleh Istri beberapa saat sebelum keberangkatan. Itulah 'nabung'.

Kondisi pandemi memang melumpuhkan sebagian besar tiang ekonomi. Berharap wabah segera hilang bukan permintaan satu dua orang saja. Ada jutaan orang menginginkan itu terjadi. Sayangnya, kegiatan   'nabung' seperti yang dilakukan prajurit nampaknya hanya segelitir manusia yang melakukan. Sisanya, lebih menjadi mengeluh karena keadaan.

Entah bagaimana nasib segelitir manusia tersebut ketika wabah benar-benar pergi. Orang-orang yang mengikuti kebiasaan prajurit sebelum berperang tentunya akan memiliki posisi start yang lebih bagus untuk memulai kembali kompetisi. Kalau dianalogikan sudah ada mbak-mbak yang 'memayungi' seperti di Moto GP. Sementara, si tukang ngeluh masih sangat jauh dari arena sirkuit. Butuh berjam-jam untuk sampai pada posisi start. Apesnya, ban bocor. Setelah motor 'dituntun' puluhan kilometer akhirnya muncul secerca harapan. Tumpukan ban bekas nun jauh di sana. Jasa tambal ban, pikirnya. Namun, sungguh miris nasib si tukang ngeluh, nampaknya ia tak bisa ikut berkompetisi. Sebab, ban bekas tersebut adalah milik mahasiswa untuk demo yang ditunda tempo hari karena lupa bawa korek api.

Sekian~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat Dengan Istri ?