Do'a

Lalu, mau apa lagi jika malam yang dulu kerap kau nikmati penuh dengan harapan indah untuk esok hari kini sudah berpindah pada orang lain ?

Menunggu ? Jika iya, jangan katakan itu cinta. Otakmu sudah tercuci. Semua mimpi ketika kecil t’lah terganti dengan obsesi tentang dia. Sadarlah, yang kau katakan ‘cinta’ bukanlah menunggu orang yang jelas-jelas sudah berbagi kisah dengan pihak lain. Melainkan, do’a.

Ya, cinta adalah do’a. Memang versi tiap kepala akan berbeda. Tapi itulah yang paling pantas menempati predikat ‘masuk akal’.

Pun dengan perilaku ‘menunggu’, kita layak menyematkan gelar ‘do’a’ pada kegiatan tersebut. Namun jika analoginya menjurus kepada point ke-dua, menunggu seseorang untuk kembali lagi, maka semoga kita sepaham itu bukan do’a. Itu adalah memaksa.

Mari kita kembali pada apa yang kita bahas. Cinta adalah Do’a, lalu apa yang harus kita lakukan saat perasaan yang  diutarakan tak terbalas ? Mulailah dengan berkaca, jika dia menolak karena pilihannya belum tepat, maka pantaskanlah diri kita. Tapi, jika alasannya karena dia sudah memiliki tempat bercerita yang menurutnya paling nyaman. Maka, berdo’alah untuk kebahagiannya. Sebab, do’a adalah sehebat-hebatnya cinta.

Komentar